Kamis, 03 November 2011

SAVE ME, GUYS !!



Lihat aku donk. Lihat kan aku lucu banget. Imut-imut gitu. Sayangnya aku sudah mulai punah. Nangis nih aku :’( ..
Sejak abad ke-20, aku banyak diburu oleh makhluk-makhluk aneh yang bernama manusia. Jahat banget kan manusia itu.
Sifatku yang baik dan mukaku yang lucu menjadi daya tarik manusia untuk memilikiku. Aku banyak diburu untuk dijadikan hewan peliharaan.
Ada yang pernah ngadain survei di tahun 2003, yaitu TRAFFIC, mereka menghitung sudah ada 30 orang utan yang disita di 5 pusat satwa liar di jawa.
Kalau hal ini dibiarkan, keluargaku makin lama makin habis. Kasihan kalian juga kan kalau nggak bisa ngelihat tampang kami yang cute abis.
Walaupun kalian nggak memiliki kami, tapi kalian tetap bisa melihat dan menikmati pesona kami di llingkungan sekitar.
Jadi,..... LESTARIKAN kami, LINDUNGI kami. HELP MEEEEEE GUUYYYYSSSSS.......

Sabtu, 10 September 2011

Kesempurnaan Ramadhan

“Kak Leon ma Ayah belum pulang ya Bun”
“mungkin sebentar lagi”
            Kak Leon bukan saudara kandungku. Dia adalah kakak tiriku. Tidak seperti di dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih, aku dan Kak Leon sangat akrab. Perbedaan usia kami yang hanya 2 tahun, membuat kami semakin dekat. Tak jarang kami sering bertukar cerita tentang Masalah dan kehidupan kami. Kak Leon selalu memperlakukanku seperti adik kandungnya.
            Tok..tok..tok...
“assallamualaikum” terdengar salam dari arah pintu
“wa’alaikum salam” teriakku sembari membukakan pintu
“kakak pulangnya kok sore banget sih. Mana bau apek lagi” protesku
“enak aja. Wangi gini dibilang apek. Kamu tu yang apek bau kasur” kata Kak Leon mengacak-acak rambutku
“udah-udah ribut terus”
“permaisuri kita ini Bun. Orang wangi kayak gini kok dikatain apek” sanggah Kak Leon sambil mencium tangan Bunda
            Alahu akbar alahu akbar... Azan maghrib pun berkumandang. Seperti biasa, aku dan Kak Leon selalu berebutan mengambil makanan berbuka.
Walaupun telah dewasa, Kak Leon seorang mahasiswa semester 1 di perguruan tinggi  dan aku seorang siswi kelas 2 di sebuah sekolah menengah atas, tingkah kami dirumah Masih seperti anak kecil. Hal ini yang sering aku rindukan jika kakak tidak ada dirumah.
            “Deva, Leon ingat umur. Kalian sudah dewasa, nggak pantas bertingkah seperti itu lagi. Ayo cepat shalat maghrib. Setelah itu kita makan malam” tegur Ayah
            Seperti halnya kakakku, laki-laki itu juga bukan keluarga kandungku. Dia Ayah tiriku. Bunda telah berpisah dengan Ayah kandungku sejak aku berusia 3 tahun. Ayah tiriku sangat baik dan tidak pernah membeda-bedakan aku dengan Kak Leon. Seluruh fasilitas yang kami miliki sama.
Ketika usiaku menginjak 5 tahun, Bunda menikah dengan seorang pengusaha sukses di Bandung. Dan disinilah sekarang kami berada, disebuah rumah mewah yang berada di kota Bandung. Aku dan Bunda harus meninggalkan nenek dan kakek yang berada di Surabaya untuk mengikuti usaha Ayah yang berpusat di kota bandung.
“terawih yuk kak” ajakku
“Ayah-Bunda kemana?”
“Bunda kan tadi nggak puasa, Ayah katanya lagi banyak kerjaan. Ayo dong kak.”
“iya, tunggu dibawah. Kakak ganti baju dulu”
Seusai shalat terawih, aku bergabung dengan Bunda di ruang keluarga. Seperti biasa, Bunda nggak pernah melewatkan sinetron kesayangannya.
“sinetron lagi Bun. Ceritanya gitu-gitu mulu nggak ada habisnya”
“daripada Bunda nonton kamu dengan Leon ribut, mendingan Bunda nonton sinetron. Artisnya ganteng-ganteng”
“ah Bunda. Deva juga nggak kalah cantik dengan artis siapa tu pemeran sinetron Kesempurnaan Ramadhan yang namanya Selvie”
“iya deh, anak Bunda memang paling cantik”
“tapi bohooong..”
Tiba-tiba Kak Leon mengejutkanku. Dengan segera dia duduk disampingku dan mencubit pipi tembemku pelan.
“apa’an sih kak, datang-datang langsung nyubit pipiku” ujarku mengusap-usap pipiku.
“makanya, punya pipi jangan kayak bakpau”
“Ayah, pipiku kayak bakpau ya? Nggak kan!”
“nggak kok, siapa yang ngatain pipi anak kesayangan Ayah kayak bakpau?”
“kakak yah”
Suasana keluargaku selalu ceria, jarang ada keributan yang berarti. Keluarga ini seperti anugrah. Ayah, Bunda, dan Kak Leon. Mereka adalah milikku yang berharga
***
“hati-hati disana sayang” kata Bunda sambil mengusap kepalaku
“oke  Bun”
“jaga diri, jangan jalan-jalan terus” pesan Ayah
“jangan lupa bawain oleh-oleh cewek cantik untuk kakak”
“yeee... Cewek itu yang nggak bakalan mau dengan kakak”
Seusai berpamitan, aku pun segera check in dan memasuki boarding room. Tepat pukul 11.00 WIB nanti aku akan terbang ke Surabaya menggunakan Lion Air. Cukup ramai suasana bandara pagi ini. Mungkin banyak pemudik yang akan pulang ke kapung halamannya.
Seperti halnya aku. Hampir 2 tahun aku tidak mengunjungi Ayah kandungku di Surabaya. Selain ingin bersilahturahmi, aku juga ingin melihat adik kembarku. Kabarnya istri Ayah telah melahirkan 2 orang bayi kembar ynag lucu.
Tak terasa aku telah tiba di bandara Surabaya. Sykurlah aku hanya membawa 1 koper kecil. Sehingga aku tidak perlu berdesak-desakkan menunggu antrian barang yang ditaruh dibagasi. Segera aku menuju pintu keluar dan mencari-cari Mas Andre. Kata Ayah kandungku, Mas Andre yang akan menjemputku di bandara.
Dari kejauhan samar-samar aku mendengar seseorang memanggilku. Saat aku menoleh ke kanan, ternyata Mas Andre yang memanggil. Cowok jangkung itu pun menghampiriku dan mengambil koper yang aku bawa. Tanpa berlama-lama di bandara kami segera menuju rumah Ayah.
“makasih Mas” kataku ketika Mas Andre membukakan pintu mobilnya. Mas Andre hanya memlasa dengan senyum manisnya.
Perjalanan kami tempuh dalam diam, sibuk dengan pikiran Masing-Masing. Hingga akhirnya Mas Andre memulai pembicaraan.
“kamu cantik
“ha..? Emb makasih Mas. Mas juga kelihatan semakin dewasa” kataku balas memuji
“gimana kabar Ayah, Bunda, dan Kak Leon di bandung ?”
“alhamdulilah baik. Kak Leon sering ngomongin Mas”
“ah yang bener?” Tanya Mas Andre tak percaya
“iya. Katanya Mas beli mobil baru, Mas Masuk universitas negeri, Mas liburan, Mas lagi ini, Mas lagi itu. Tiap hari nggak pernah terlewatkan tanpa cerita tentang Mas” ceritaku penuh semangat
“kamu nggak berubah ya. Tetap cerewet seperti terakhir kali kita ketemu”
“ah Mas Andre”
Baling-balling  bambu...
Terdengar suara Doraemon dari ponselku. Ada satu pesan dari Bunda.
Sayang, sudah sampai ya. Jangan lupa menemui teman Bunda dirumah Sakit Batista. Dr. Kusuma.
Dengan cepat aku mengirimkan pesan balasan
Iya Bun. Nanti Deva kesana denganmas Andre.
“Mas, Rumah Sakit Batista dimana?”
“didekat sini kok. Kami sakit?” Tanya Mas Andre khawatir
“oh nggak Mas. Bunda pesan, disuruh nemuin teman Bunda di Rumah Sakit itu”
“kamu mau Mas antar kesana?”
“iya. Sekarang aja ya kita kesana” pintaku
Ternyata Rumah Sakit Batista tiodak jauh dari bandara. Hanya menempuh waktu 25 menit. Sesampainya di rumahh sakit, Mas Andre memarkirkan mobilnya di tempat parkir terdekat. Kami pun menuju ke
Kami pun bergegas Masuk. Semerbak bau khas Rumah Sakit menerpa hidungku. Sejenak aku terkagum dengan interior bangunan ini. Sungguh luar biasa, sangat megah dan elegan. Tidak seperti Rumah Sakit pada umumnya.
            Ruang dr. Kusuma terletak di lantai 4. Aku penasaran dan bertanya-tanya, siapakah dokter itu? Apa hubungan  beliau dengan Bunda? Kenapa Bunda menyuruhku bertemu dengannya? Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dalam pikiranku.
            Akhirnya pintu dengan tulisan DR. KUSUMA HERIAN berada didepanku. Seorang dokter berusia 40-an berada di belakang  meja kerjanya. Sinar-sinar ketampanan Masih tergambar jelas dari raut wajah sang dokter.
            “siang dok”
“siang. Silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?”
“saya putri Bu Arum. Tadi Bunda menyuruh saya menemui dokter”
“Arum.... Arum Wardani?” Dokter itu tampak berpikir keras
“iya dok. Itu Bunda saya. Ada apa ya dok”
“oh tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita ngobrol diluar. Sekalian buka puasa?”
            “gimana Mas, mau nggak” tanyaku pada Mas Andre yang hanya berdiam diri.
            “boleh-boleh. Nggak Masalah kog”
            Om Kusuma, begitu aku mulai memanggilnya, memilih restoran di dekat Rumah Sakit. Aku tidak terlalu berselera untuk menyantap makanan. Sambil menunggu Om Kusuma memesan makanan, aku sibuk memikirkan kata-kata Mas Andre dirumah Sakit.
            “Dev, dokter Kusuma ganteng ya” bisik Mas Andre
“tapi udah tua”
“mirip deh sama kamu hidungnya. Mancung-mancung lancip gimana gitu”
“ah Mas ngelawak ni” sahutku sembari tertawa
“Dev, gimana kabar Bundamu?” Pertanyaan Om Kusuma menbuyarkan lamunanku.
“baik Om”
“pasti semakin cantik ya seperti kamu”
“Om bisa aja. Emb... Sebenarnya kenapa ya Bunda menyuruh Deva menemui Om”
“Om kangen denganmu. Sejak kalian berdua pindah ke bandung, Om tidak pernah bertemu lagi dengan kalian”
“apakah Om dulu dekat dengan Bunda?” Tanyaku penuh rasa penasaran”
“kami lumayan dekat. Sejak SMP hingga SMA kami bersekolah di tempat yang sama. Bahkan kami sempat tinggal bersama di Jakarta. Arum bekerja dan Om kuliah”
            Baling-baling bambuuu....
            Satu pesan dari Ayah.
Kamu dimana? Ayah dan ibu sudah  nunggu dari tadi. Cepat pulang  ya sayang
            “Om, maaf. Deva udah ditungguin Ayah dirumah”
“oh iya nggak pa-pa”
“kami pulang dulu ya Om” kataku berpamitan
“iya hati-hati. Jangan kebut-kebutan di jalan ya Ndre bawa anak Om” pesan Om Kusuma
“iya Om. Assallamu’alaikum”

“Dev” panggil Om Kusuma
Tiba-tiba langkahku terhenti dan berbalik ke arah Om Kusuma.
            “kalau perlu mobil untuk jalan-jalan selama di Surabaya, kamu bisa kerumah Om. Sudah Om sediain mobil untuk kamu”
“makasih Om. Nanti aja”
            Rasa bingung dan penasaran Masih membekas dalam pikiran. Aku memperhatikan Mas Andre.
            “kenapa Dev”
“kok aku Masih penasaran ya dengan Om Kusuma”
“ntar kamu tanyain aja ke Bunda”
            Aku hanya mengangguk-anggukan kepala. Mataku menatap lurus kedepan, memperhatikan jalanan yang mulai lengang.
            “o iya Dev, bentuk gigimu dan gigi Om Kusuma sama”
“ah Masak sih Mas, detail amat perhatiin Om Kusuma”
“beneran deh. Kalian berdua mirip”
            Tak terasa mobil telah memasuki pekarangan rumah. Unik sekali rumah Ayah sekarang. Sudah direnovasi secara keseluruhan. Sebuah rumah mungil yang dikelilingi pohon-pohon hias. Ayah dan istrinya menyambutku di depan rumah. Mereka terlihat sangat serasi dan bahagia.
            “assalamu’alaikum yah, bu”
“wa’alaikum salam” jawab mereka serempak
“darimana saja kalian, sudah larut malam baru pulang” tanya Ayah
“tadi kami bertemu teman tante Arum” jawab Mas Andre
“tapi kalian udah berbuka kan”
“udah bu. Buka bersama Om Kusuma”
“ini udah larut malam. Kamu cepet istirahat. Pasti capek seharian di jalan” pesan ibu
“Andre nginap saja disini, udah malam banget. Bu tolong siapkan kamar tamu” lanjut Ayah
“makasih Om, tante”
“yah Deva mandi dulu ya. Ngantuk banget” kataku sambil meninggalkan Mas Andre dan Ayah diruang keluarga.
            Kamarku Masih seperti 2 tahun yang lalu. Penuh dengan ornamen-ornamen kupu-kupu dan bintang. Sejak kecil aku sangat menyukai kupu-kupu dan bintang. Hal tersebut berlanjut hingga dewasa. Akhirnya aku terlelap ke alam mimpi.
            Sebuah sms membangunkanku. Ternyata sms dari Bunda yang membangunkanku sahur. Masih cukup awal untuk sahur. Aku pun bergegas untuk shalat tahajut. Kemudian makan sahur.
            Cukup sepi, hanya ada aku, Ayah, dan ibu tiriku. Baru sehari meninggalkan keluarga di bandung, aku sudah kangen Bunda, Ayah, Kak Leon. Walaupun disini ibu memperlakukanku layaknya anak kandung sendiri, tapi ada rasa sepi menyusup di relung hati.
            Pagi harinya setelah membantu ibu membersihkan rumah. Aku menelepon Bunda. Rasa kangen tak terbendung lagi.
            “hallo” terdengar suara Bunda di seberang
“Bunda... Deva kangen banget”
“baru juga 1 hari”
“Bun Deva mau nanyain sesuatu”
“apa ?” Tanya Bunda
“Om Kusuma itu siapa Bun? Dia perhatian sekali dengan Deva.”
“Ayahmu”
“maksud Bunda”
“maaf Dev, Tri Wijaya, orang yang selama ini kamu anggap Ayah kandungmu itu bukanlah Ayahmu yang sebenarnya. Kusuma lah Ayahmu. Ayah biologismu.”
            Bagai petir disiang hari, kabar itu membuatku terkejut sekaligus bingung.
            “Bunda....”
            “maaf Dev, Bunda hanya bisa meminta maaf. Ini semua salah Bunda, sehingga kalian harus terpisah selama 17 tahun. Bunda rasa ini saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya” terdengar isak tangis Bunda
            Aku tidak dapat berkata-kata. Tangisku pun pecah. Kubiarkan Bunda menjelaskan panjang lebar. Aku ingin mengetahui yang sesungguhnya.
            “Bunda udah bercerai dengan Ayah tri sebulan ketika Bunda tahu Bunda hamil. Feeling seorang ibu mengatakan janin yang Bunda kandung adalah anak Kusuma. Bunda sangat yakin hal itu.”
“kenapa Bunda membiarkan Deva tumbuh tanpa mengetahui Ayah biologis Deva? Kenapa dia tidak mau mengakui Deva, Bun?”
“semua ini salah Bunda. Hanya Bunda. 17 tahun yang lalu Bunda hanyalah seorang janda dari keluarga biasa. Sedangkan dia pemuda terkaya di Surabaya. Bunda takut keluarganya mengira Bunda hanya menginginkan harta. Bunda rasa ini waktu yang tepat, disaat kita telah hidup bahagia dan berkecukupan. Bunda hanya ingin kalian bertemu dan mengenal satu sama lain.” Jelas Bunda dengan isak tangis yang belum berhenti
            “Deva nggak tahu harus ngomong apa lagi”
            “kamu marah dengan Bunda? Marah lah nak. Bunda terima”
            “nggak Bun. Untuk apa Deva marah? Semua telah terjadi. Bukan berarti dengan Deva marah takdir akan berubah. Ini sudah jalan takdir yang digariskan oleh Allah SWT.”
            “terima kasih sayang. Semua yang Bunda takutkan tidak terjadi. Kamu bisa menerimanya. Terima kasih. Assalamualaikum”
            “wa’alaikum salam” jawabku mengakhiri telepon
            Tidak pernah aku sangka jalan hidup yang serumit ini. Aku tidak bisa menyalahkan Bunda. Aku yakin selama ini Bunda telah berusaha memberikan yang terbaik untukku. Takdir ini tidak perlu disesali, tetapi perlu diperbaiki.
            Aku menemui Mas Andre di taman dan menceritakan semuanya. Sama denganku, Mas Andre cukup terkejut dengan kenyataan yang terungkap. Dia hanya menyarankan agar aku tidak mengacaukan semuanya.  Biarlah semua mengalir seperti biasa.
            Dia juga mengatakan sesuatu yang didengarnya kemarin. Ketika Om Kusuma mengangkat sebuah telepon di toilet restoran.
            Bagaimanapun dia tetap matahariku. Dia adalah bukti cinta kita berdua. Terimakasih kamu telah merawatnya hingga secantik ini, Rum.
            Awalnya Mas Andre hanya menganggap itu percakapan biasa. Tetapi kini kami mengerti, matahari yang dimaksudkan adalah aku. Akulah bukti cinta mereka berdua.
            Begitu senja terbenam dan bulan mulai muncul aku pulang kerumah. Ayah dan ibu terkejut melihat mataku yanng sembab. Aku hanya mengatakan ada sedikit Masalah dengan teman. Akuv tidak ingin mereka tahu yang sebenarnya. Biarlah semua seperti apa adanya. Ayah tetap menganggapku sebagai anaknya. Dan ibu tetap menganggapku anak tirinya.
            Setelah berbuka puasa dan shalat maghrib. Aku menelepon Bunda.
            “assalamualaikum Bun”
            “wa’alaikum salam. Ada apa Dev? Kamu baik-baik saja kan.”
            “tidak ada apa-apa Bun. Deva hanya ingin Bunda menceritakan kehidupan Ayah yang sekarang” pintaku
            “seperti yang kamu lihat kemarin, Ayahmu telah sukses menjadi seorang dokter spesialis mata. Dia menikah dengan Tante Risris, sahabat Bunda, dan dikaruniai seorang putra. Mungkin sekarang berusia 14 tahun.”
            “bisakah Deva bertemu dengan mereka?”
            “jangan sayang. Mereka tidak tahu yang sebenarnya. Tidak ada yang mengetahui hal ini. Hanya kamu, Bunda, Om Kusuma, dan nenek. Malam ini pukul 20.00 pergilah ke Restoran Cherie. Kamu akan bertemu Ayahmu disana.”
            “Bunda udah mengatur ini semua?”
            “tidak. Setiap tahun dimalam takbiran Ayahmu itu selalu menghabiskan malam di restoran Cherie. Mengenang perpisahan kami. Bunda yakin malam ini dia ada disana.”
            Segera aku berganti pakaian dan menelepon taksi. Malam itu jalanan sangat ramai dipenuhi anak-anak yang takbiran. Aku hanya bida berdoa semoga tidak terjebak macet.
Taksi itu menghentikan mesinnya tepat di depan sebuah restoran mewah di tengah kota Surabaya. Di depan restoran terdapat ukiran tilisan dari kayu. Dengan tergesa-gesa aku memasuki restoran. Sambutan ramah para pelayan tidak aku hiraukan.
Tepat ditengah ruangan terlihat sosok yang aku kenal. Sedang menyesap secangkir minuman dan memandangi selkembar foto. Cukup jauh dari tempatku berdiri sekarang. Perlahan-lahan aku mendekatinya. Ternyata itu adalah foto Bunda.
“Ayah” panggilku lirih
Orang yang aku panggil itu menoleh dan melihatku dengan tatapan terkejut.
“Deva, sejak kapan kamu berada disitu. Ayo duduk”
“kebetulan Om sedang sendiri”
Aku pun kemudian duduk di depan Om Kusuma. Kupandangi wajahnya. Ternyata memang benar. Ada kemiripan dengan wajahku, dan susunan giginya sama dengan gigiku.
“Ayah” kataku kembali. Tak terasa air mataku meleleh
“kamu...kamu sudah mengetahuinya?”
Tiba-tiba Om Kusuma berdiri dan memelukku erat. Hening. Sejenak hanya ada isak tangis dari kami. Tidak peduli dengan para pengunjung yang memperhatikan kami.
“anakku..anakku..maafkan Ayah”
“Deva sudah tahu semuanya. Tidak perlu Ayah meminta maaf, karena tidak ada yang perlul dimaafkan. Semua telah terjadi atas izin Allah SWT.”
Malam itu kami habiskan berdua. Jika tahun-tahun sebelumnya Om Kusuma mengenang malam takbiran sebagai malam kenangannya dengan Bunda. Aku akan mengenang malam takbiran sebagai malam terindah dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku dapat bertemu dengan Ayahku yang sesungguhya.
Terima kasih tuhan. Terima kasih atas berkahmu di Ramadhan kali ini. Ramadhan tahun ini menjadi sempurna dengan terungkapnya rahasia terbesar Bunda. Kali ini aku dapat menikmati kesempurnaan ramdhan yang hangat.

Selasa, 16 Agustus 2011

Kisah Putri Pontianak

            Panas sekali siang ini. Seusai kelas terakhir aku masih harus menghadiri rapat bazar di kampus. Tetapi bayangan wajah kak Andi seketika menghapuskan rasa letihku. Diam-diam aku mengagumi kak Andi. Dia bukanlah seorang pemuda yang tampan dan kaya raya. Dia hanyalah seorang pemuda biasa yang bijaksana. Sifatnya itulah yang mampu menarik hati setiap gadis di kampusku. Kak Andi cukup populer dikalangan para mahasiswa. Karena dia juga seorang aktivis. Kekagumanku pada kak Andi selama ini hanya bisa aku pendam. Aku terlalu takut untuk mengungkapkannya. Selama ini, aku hanya mencari informasi tentangnya, tanpa ada keberanian untuk mendekatinya.
            Hingga akhirnya kesempatan untuk bisa dekat dengan Kak Andi datang. Aku ditunjuk sebagai sekretaris dalam acara bazar di universitasku, dengan kak Andi sebagai ketuanya. 4 bulan kami menyiapkan acara tersebut, selama itu pula intensitas pertemuan kami semakin banyak. Semakin hari kami semakin dekat. Kak Andi mulai memberikan sedikit perhatian-perhatian kecil untukku. Terkadang ia menjemput dan mengantarku sepulang kuliah.
            Pada suatu sore Kak Andi mengajakku mengunjungi salah satu sponsor besar dari kegiatan di kampus. Sepulang dari kunjungan itu, kami makan di salah satu restoran favorit para mahasiswa. Tiba-tiba Kak Andi menyatakan perasaannya. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Tentu aku sangat senang, karena hal yang selama ini aku inginkan akhirnya terwujud. Aku senang bercampur sedih. Aku yang bergelar syarifah dan masih keturunan keraton tidak akan pernah diizinkan menjalin hubungan dengan pemuda dari kalangan rakyat biasa. Tradisi tersebut sudah turun menurun dianut keluargaku yang masih keturunan kerajaan Pontianak. Tersirat kesedihan dimatanya ketika aku mengatakan hal tersebut. Tapi aku juga nggak tega untuk menolak keinginannya. Aku pun menerima Kak Andi. Sejak saat itu kami menjalin hubungan yang tidak diketahui oleh kedua orang tuaku.

            Tidak terasa hubungan kami telah memasuki tahun ke-3. Banyak suka dan suka yang telah kami lewati bersama. Tetapi itu semua dapat kami selesaikan tanpa ada pertengkaran yang besar. Aku sering berkunjung kerumah Kak Andi  untuk sekedar main ataupun mengerjakan tugas. Orang tua Kak Andi sangat welcome terhadapku. Terlebih lagi ibunya. Aku sangat menyayangi mereka. aku telah menganggapnya sebagai orang tuaku sendiri.
Suatu hari, ketika kami tengah merayakan hari jadi ke-3 di sebuah restoran, Kak Andi tiba-tiba menanyakan tentang kejelasan hubungan kami. Aku yang tidak menyangka akan disodori pertanyaan seperti itu pun terkejut. Aku belum siap dengan pertanyaan Kak Andi. Dia memintaku untuk mengenalkannya dengan orang tuaku. Aku pun menyetujuinya dengan persaan bingung dan takut.
            Hari yang direncanakan tiba. Malam ini aku berencana mengenalkan Kak Andi dengan orang tuaku. Tepat pukul 7 malam motor Kak Andi tiba dihalaman rumahku. Cara berpakaian Kak Andi sedikit berbeda. Ia mengenakan kemeja berwarna biru dan dipadukan dengan celana jins hitam. Cukup rapi jika dibandingkan dengan kesehariannya yang senang melapisi pakaian dengan kaos dan kemeja. Terlihat ketegangan di raut wajahnya. Aku pun tersenyum menyambut kedatangannya.
“assallamu’alaikum”
“wa’alaikum salam,” sahutku sambil mempersilahkan Kak Andi memasuki rumah
Pelan-pelan ia memasuki rumah sambil memperhatikan keadaan rumah yang kelihatan sepi
“umi dan abah lagi pergi,kak,” kataku mengetahui kegelisahannya
Seketika itu juga Kak Andi mengehmbuskan nafas lega. Aku tertawa melihat tingkahnya itu. Setengah jam berlalu, terdengar deru suara mobil memasuki garasi rumah.
            “itu pasti umi dan abah, sebentar ya kak,” tanpa menunggu jawaban Kak Andi, aku langsung menuju halaman menyabut kedatangan kedua orang tuaku.            “motor siapa itu vie?” tanya umi sambil melihat kearah ruang tamu
            “motor teman selvie mi, itu orangnya ada didalam, Selvie mau ngenalinnya dengan umi dan abah” jawabku sambil mengajak umi dan abah masuk kedalam rumah
            Kak Andi langsung berdiri menyambut kedatangan kedua orang tuaku. Diciumnya kedua tangan mereka dengan sopan. Senang rasanya Kak Andi bisa bersikap sopan kepada orang tuaku
            “temannya selvie ya?” tanya umi sambil menduduki kursi
            “iya om” jawab Kak Andi singkat
            “kerja atau kuliah? Dimana?” tanya abah penuh selidik
            “masih kuliah om di UNTAN” sahutnya dengan kikuk
            “oo ya sudah, lanjutin ngobrolnya. Om masuk dulu.” Abah pun beranjak dari kursinya diikuti umi.
            Aku dan Kak Andi langsung tersenyum ketika mengethui respon kedua orang tuaku. Syukurlah mereka tidak mengintrogasi Kak Andi hingga detail. Jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Kak Andi pun berpamitan pulang. Sebagai pemuda yang berpendidikan, Kak Andi sangat menjaga etika bertamunya. Aku pun mengantarkan Kak Andi hingga halaman depan. Aku menunggunya hingga ia hilang dari pandanganku.
            Aku pun kembali masuk ke dalam rumah. Terlihat umi dan abah sedang asyik menonton liputan berita di TVRI
            “Selvie, yang tadi itu siapa? Tinggal dimana” tanya umi
            “Kak Andi mi, teman dekat Selvie. Dia tinggal di kompleks UNTAN”
            “apa nama lengkapnya?”
            “Andi Rangga Pratama. Kenapa mi?”
            “bukan keturunan syarif?”
            “bukan, orang tuanya berasal dari Bandung yang memiliki usaha disini”
            “kenapa kamu berani menjalin hubungan dengan orang sembarangan selvie?” abah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun ikut bicara
            “dia bukan orang sembarangan bah. Asal usul keluarganya jelas dan dia juga bukan orang yang sangat miskin”
            “tapi dia tidak mempunyai keturunan raja seperti kita. Kamu harus ingat siapa dirimu selvie. Kamu adalah seorang keturunan raja. Dan kamu harus mencari pendamping yang bibit, bebet, bobotnya sebanding dengan kita. Mulai sekarang putuskan hubunganmu dengan Andi itu.” Terang abah dengan marah
            Aku yang tidak dapat menahan air mata langsung berlari menuju kamar tidur. Dengan wajah menelungkup di atas bantal aku menangis sesegukan. Apa yang aku takutkan akhirnya terjadi. Abah dengan keras menentang hubunganku dengan Kak Andi. Aku hanya bisa menangis dan menangis hingga terlelap ke alam mimpi.
            Keesokan harinya aku bangun dengan mata bengkak. Teringat kejadian semalam, aku pun menitikkan air mata lagi. Kenapa tuhan mempertemukanku dengannya jika akhirnya aku harus berpisah dengan Kak Andi. Sayup-sayup terdengar
            “pagi.” Ucapku dengan murung
            “pagi sayang.” Jawab umi sambil mengecup keningku
Kelihatannya abah masih marah mengenai kejadian tadi malam. Dan aku tidak ingin membicarakan hal tersebut. Kami makan dalam keheningan. Perutku seakan penuh tak ingin terisi lagi. Aku pun segera berpamitan untuk kuliah.
            “selvie pergi dulu, assalamu’alaikum” kataku sambil beranjak dari meja makan
            “selvie” panggil abah
            Langkahku pun terhenti. Tanpa sempat menoleh ke arah abah. Beliau berkata “putuskan hubungan kalian”
            Tanpa menjawab perkataan abah, aku langsung bergegas pergi. Sayup-sayup terdengar suara umi meneriakkan kata “hati-hati”
            Sepanjang perjalanan ke kampus pikiranku dipenuhi tentang Kak Andi dan keluargaku. Bagaimana aku harus menjelaskan kepada Kak Andi. Aku belum rela jika harus berpisah dengannya. Hubungan yang telah terjalin selama 3 tahun telah menorehkan berbagai kenangan.
            Sesampainya dikampus, aku langsung masuk kekelas. Biasanya aku akan bertemu Kak Andi sebelum masuk ke kelas. Tapi untuk hari ini, aku tidak ingin bertemu Kak Andi. Bahkan telpon sms-sms Kak Andi pun tidak aku hiraukan sedikitpun. Aku terlalu bingung menjelaskan semua ini.
            Hari ini aku hanya ada 1 mata kuliah. Seusai kelas pun aku langsung pulang kerumah. Ditengah perjalanan ada sms masuk. Ternyata sms Kak Andi.
            Selvie, kamu dimana
            Tak aku gubris sms tersebut, bahkan handphone-ku sengaja aku non-aktifkan. Ada sedikit rasa penyesalan kurasakan, tapi aku belum siap bertemu dengan Kak Andi. Setibanya dirumah, aku langsung menemui umi di kamarnya. Hanya umi yang selama ini aku percaya untuk mendengarkan keluh kesahku.
            “assalamu’alaikum umi,”
            “wa’alaikum salam, ada apa?” jawab umi sembari meletakkan koran yang dibacanya.
            “lagi baca apa mi?” tanyaku memulai percakapan
            “ini ada pembunuhan di sebrang sana. Kamu kalau lagi pergi hati-hati. Jangan gampang percaya dengan orang. Apalagi kamu kan perempuan. Umi takut ada apa-apa” kata umi sambil mengusap-usap kepalaku
            “iya mi, insya allah selvie bisa kog jaga diri” katakku sembari menyandarkan kepala dibahu umi
            “vie, kata abahmu itu benar. Kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan Andi.”
            “kenapa mi. Kak Andi orang yang baik”
            “umi tahu dia baik, anak umi tidak mungkin bergaul dengan sembarang orang. Tapi dia dari kalangan biasa”
            “apa perbedaannya dengan kita? Kita juga orang biasa” kataku mencoba membela Kak Andi
            “tapi kita masih keturunan keraton. Kita punya tanggung jawab besar untuk terus melestarikan keturunan kita. Apalagi kamu adalah anak umi dan abah satu-satunya. Siapa lagi yang akan meneruskan keturunan kita kalau bukan kamu?” terang umi panjang lebar
            “tapi Kak Ahmad bisa terus menjalin hubungan dengan Deara” kataku mencoba membela diri
            “dia kan laki-laki. Otomatis keturunan mereka tetap dapat melanjutkan keturunannya.”
            “tapi mi, bagaimana selvie harus menjelaskan kepada Kak Andi”
            “sebaiknya kamu menceritakan secara terus terang dengan Andi”
            “iya mi. Makasih ya sarannya. Selvie mau gerjain tugas dulu”
Sedikit lega setelah bercerita dengan umi. Aku pun melanjutkan tugas kuliahku dikamar.
            Keesokan harinya aku bangun tidur dengan perasaan yang lebih baik dari kemarin. Aku sudah memiliki keputusan untuk dikatakan dengan Kak Andi.
            “pagi bah, pagi mi” sapaku
            “pagi sayang. Ceria sekali kamu pagi ini” sahut umi yang sedang menyediakan sarapan untuk abah
            “bagaimana Andi?” tanya abah langsung
            “sudah la bah. Biarkan Selvie sarapan dulu” tegur umi
            “tidak apa-apa mi. Umi, abah Selvie pergi dulu ya. Sarapan di kantin saja. Masih ada tugas yang belum selvie selesaikan.”
            “hati-hati dijalan” sahut umi
            Sepanjang perjalanan ke kampus, pikiranku dipenuhi oleh keputusan yang akan aku katakan kepada Kak Andi. Bagaimana reaksinya nanti? Apakah dia akan marah? Pikiran-pikiran seperti itu terus berkecamuk dalam otakku.
            Sesampainya dikampus, aku yang belum siap untuk menemui Kak Andi pun langsung bergegas masuk menuju kelas pertama. Aku berencana memberitahu keputusan yang aku ambil selepas kelas pertama.
            Pelajaran pun usai. Perasaanku semakin tak karuan. Aku dikejutkan oleh
kehadiran Kak Andi di depan kelasku. Walaupun aku sudah berencana menemuinya, tapi kedatangan Kak Andi yang tiba-tiba cukup mengejutkanku.
            “kakak”
            “kemana saja kamu belakangan ini”
            “tidak kemana-mana kak. Selvie baru saja akan menemui kakak. Tapi kakak sudah ada disini”
            “ke kantin yuk kak” ajakku
            “oke. Ada yang ingin kakak bicarakan”
            “Selvie juga mau bicara dengan kakak”
Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol. Kak Andi memilih tempat dipojok ruangan yang lumayan terhindar dari tatapan mata mahasiswa lainnya.
            “maaf Kak”
            “maaf untuk apa?”
            “selvie menghindari kakak belakangan ini”
            “tidak masalah. Kakak bisa mengerti. Apa yang ingin kamu bicarakan?’’
            “abah tidak menyetujui hubungan kita”
            “sudah aku duga, pasti ini yang membuatmu mulai menjauhiku”
            “bagaimana menurut kakak dengan hubungan kita?”
            “terserah kamu dan keluargamu. Kakak tidak bisa memaksakan kehendak kakak sendiri” jelas Kak Andi bijak
            “hubungan kita sudah terjalin lumayan lama. Mungkinkah kita bisa melepaskan satu sama lain?” tanyaku
            “tuhan mempunyai jalan yang terbaik untuk kita vie. Walaupun kita telah menjalin hubungan belasan tahun, jika tuhan tidak menghendaki maka kita pun tidak mungkin akan bersama. Mungkin tuhan memberikan kita pasangan yang salah sebelum dia memberikan pasangan yang sebenarnya untuk kita”
            “Selvie menyayangi umi dan abah, kak. Selvie tidak ingin mengecewakan mereka. tapi Selvie juga tidak ingin mengecewakan kakak”
            “kakak tidak kecewa, menurut kakak orang tua adalah prioritas utama dalam hidup. Kita masih bisa berteman baik, dan mungkin kakak bisa lebih leluasa berkunjung kerumahmu”
            “syukurlah kakak tidak marah. Selvie takut kakak tidak dapat menerima keputusan Selvie”
            “tidak mungkin kakak marah” jawab kakak sambil tersenyum
            “sudah siang kak, Selvi harus mengantar umi kerumah sakit”
            “siapa yang sakit?” tanya Kak Andi dengan wajah khawatir
            “sudah seminggu nenek berada di ruang ICU”
            “oh... semoga nenek cepat sembuh. Kalau ada waktu kakak akan mengunjungi nenek. Hati-hati”
            Aku segera beranjak pergi meninggalkan Kak Andi yang masih berada di kantin kampus. Senang rasanya satu masalah telah terselesaikan. Aku pun pulang kerumah dengan perasaan yang bahagia.
            Sesampainya dirumah aku segera menceritakan keputusan yang aku ambil kepada umi dan abah. Mereka berdua merasa senang dengan keputusanku. Dan mereka juga mengijinkan Kak Andi berkunjung kerumah sesering mungkin.
            Memang benar kata orang. Hanya keluargalah dunia kita yang paling nyaman dan aman. Bagaimanapun, keluarga adalah anugrah terindah yang pernah kita miliki, terutama kedua orang tua. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan mereka berdua di dunia ini.